Aplikasi Teknik Apus Langsung untuk Skrining Trichomonas vaginalis dan Hitung Leukosit Pada Pasien Dengan Risiko IMS
Kata Kunci:
Trichomonas vaginalis, Leukosit, Swab Vagina, Teknik Apus LangsungAbstrak
Latar Belakang: Trikomoniasis merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh protozoa berflagela Trichomonas vaginalis. Wanita yang mengalami trikomoniasis umumnya menunjukkan gejala berupa keputihan berwarna putih kekuningan atau putih keabu-abuan, berbusa, dan berbau tidak sedap. Namun, keputihan juga dapat disebabkan oleh kondisi infeksi lainnya, sehingga skrining laboratorium diperlukan untuk menegakkan diagnosis yang akurat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining keberadaan Trichomonas vaginalis pada spesimen swab vagina yang dikumpulkan dari pasien rawat jalan di Klinik Catur Warga PKBI Bali menggunakan teknik apus langsung. Metode: Penelitian deskriptif ini dilaksanakan pada bulan April 2019 di Klinik Catur Warga PKBI Bali. Populasi penelitian terdiri atas wanita yang berisiko mengalami infeksi menular seksual dan menjalani pemeriksaan infeksi T. vaginalis. Sampel dipilih menggunakan teknik consecutive sampling sehingga diperoleh sembilan spesimen swab vagina. Spesimen diperiksa menggunakan mikroskopi apus langsung, dan hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Seluruh spesimen swab vagina (100%) menunjukkan hasil negatif terhadap Trichomonas vaginalis. Jumlah leukosit per lapang pandang mikroskopis tidak mengindikasikan adanya infeksi T (<10 leukosit/HPF). vaginalis. Berdasarkan keluhan klinis partisipan, gejala yang dialami lebih mungkin berkaitan dengan kondisi lain, seperti vaginosis bakterialis atau kandidiasis vulvovaginal, dibandingkan dengan trikomoniasis. Kesimpulan: Tidak ditemukan kasus infeksi Trichomonas vaginalis pada pasien rawat jalan yang diperiksa. Temuan ini menegaskan pentingnya diagnosis banding pada wanita dengan keluhan keputihan dan menunjukkan perlunya penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar serta populasi yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi menular seksual.









